CINTA FITRI - PENJUAL SOSIS BLEDEK

20 Jan 2016
Jaswan dan Fitri Sosis Bakar Bledek Lapangan Aurora Orora Kecamatan Balung
- Sarapan Dulu Sebelum Jualan -
Balung Kulon. Beginilah keadaan tempat kami tinggal selama kurun waktu setengah tahun terakhir. Disini pula aku akan menjalani hidup yang serba berkecukupan, bersama anak-anakku, juga adik-adikku. Berperan sebagai ibu, istri, dan yang paling sulit adalah berperan sebagai pengatur administrasi keluarga.

Perkenalkan! Namaku Fitri. Perempuan beranak tiga, mereka adalah Ata, Bayu, dan yang ‘ragil’ Rio. Aku pernah hidup penuh kebebasan di Ibu Kota. Dan aku juga pernah menjalani hidup paling mengesankan, saat aku memutuskan untuk hijrah ke sebuah kota yang disebut-sebut punya pasar loak terkenal saat ini. Benar, di Kota Solo-lah aku menemukan laki-laki (sebut : Dito) yang hingga saat ini aku tambatkan segala perasaanku, apapun itu. Disinilah aku mulai belajar hidup dengan mertua. Meskipun hal itu tidak berlangsung lama, karena banyak alasan. Dan pada akhirnya, kami berdua memutuskan untuk memboyong anak-anak kami hidup bersama di desa kecil ini.

Aku cukup bahagia saat ini. Karena mempunyai keluarga yang amat lengkap. Aku dapat melihat langsung perkembangan ke tiga buah hatiku setiap hari. Mereka selalu saja kompak mengganggu jam sibukku saat pagi hari. Yang paling besar minta benerin seragam lah. Yang kecil minta sarapan lah. Dan yang paling gokil adalah anakku yang paling tengah, Bayu. Dia dapat aku kategorikan yang paling ‘ngalem’ diantara yang lain. Hahaa, sudahlah yang penting mereka tidak malas berangkat sekolah.

Oh ya, aku disini juga hidup bersama ke dua orang tuaku dan adik-adikku. Sholeh, Yasin, Fina, dan yang paling muda Umar. Fina dan Umar masih harus sekolah setiap hari. Sementara aku dan kedua adikku yang lain sudah bekerja dan mempunyai kesibukan masing-masing. Sholeh bekerja di cucian motor, dan Yasin mengabdikan dirinya di perusahaan kecil produksi tasbih di sebelah rumah. Dan sementara aku dan suamiku bekerja sebagai Pedagang Kaki Lima (PKL) di Lapangan Aurora Kecamatan Balung. Menjual sosis bakar "BLEDEK" setiap malam hingga tutup di pertengahan malam.
 
Sebenarnya hidup dijalanan seperti ini sangat melelahkan. Namun kembali aku harus semangat, mengingat hanya aku dan suamikulah yang menjadi kepala keluarga. Ibu dan bapakku tidak bekerja karena sudah mulai renta. Aku pun juga tidak tega menarik uang belanja kepada adik-adikku. Menurutku mereka masih perlu menikmati hasil keringatnya sendiri. Walaupun terkadang fikiran itu terlalu metafora bagiku dan suamiku. Hemm, mereka yang tidak faham kondisi, atau kami yang terlalu toleransi [?]. Entahlah, kami hanya mengharap sebuah Hidayah.

Bayangkan! Bagaimana Tuhan mengatur kehidupan keluargaku setiap hari? Hanya aku dan suamiku yang harus siap siaga menjaga alur ekonomi yang kian mencekik orang kecil. Terutama saat harga cabe naik di pasaran. Itu adalah salah satu hal yang dapat membuat kepalaku berputar kian kencang. Mengingat jajananku yang sudah barang pasti memerlukan rasa pedas agar kian 'nyoss' di lidah para konsumen. Bahkan pernah pada suatu hari, aku dan suami bersepakat membatasi setiap pengeluaran sambal di bungkusan sosis kami. Alamak, kami hanya dapat tersenyum meski raut muka kami tak lagi ranum.

Rumahku seakan sudah menjadi arena sepak bola salah satu club kesebelasan. Aku dan suami yang menjadi kiper, orang tuaku backnya, sementara adik-adik dan anak-anakku adalah club lain dengan penendang ulung yang kapan saja dapat menjebol pertahanan gawang kami. Kami hanya dapat berharap, semoga kami tidak KO di tengah pertandingan.

Ada banyak hal yang membuat aku kuat. Salah satunya adalah cinta. Cinta yang pada akhirnya akan membuat keluargaku bahagia. Orang tuaku, termasuk mertuaku, adik-adikku, dan khususnya anak-anakku dan suamiku. Mereka adalah sumber cinta itu. Cinta yang sesungguhnya. Oh Gusti Allah, jaga kami dalam kasihmu.

* * *

Saya mengenal Mbk Fitri dan Om Dito tidak begitu lama. Kami dipertemukan di tempat yang sangat menyenangkan, yaitu di Lapangan Aurora Balung. Kebetulan saya bersama salah satu kakak saudara membuka usaha sederhana di situ. Dan akhirnya kami mulai mengenal hingga dekat selayaknya keluarga.

Dapat mengenal mereka itu hal yang ajaib bagi saya pribadi. Khususnya dekat dengan anak-anaknya yang lucu-lucu. Mereka semua seakan menahan kuat cambukan kehidupan. Saya memang sengaja mengajak Mbk Pit untuk berbagi cerita mengenai kehidupan singkatnya selama ini. Dan aku pun getir mendengarkannya. Hidupnya bagai cerita fiksi namun nyata. Bahkan saya sempat 'termehek-mehek' saat dia menceritakan awal kali memutuskan masa lajangnya.

Namun mereka sadar, semua itu bukan kutukan. Itu semua hanya fase yang suatu saat saya yakin akan menemukan finalnya. Kawan, mari kita bersama berlomba-lomba untuk bersyukur!!!

9 komentar:

  1. Luar biasa artikel ini. Seperti mengajari saya betapa pentingnya kehidupan yang dilakoni bersama sama. Perjuangan memang butuh kesabaran ya mba. Solo sudah sering saya dengar. Namun belum ada kesempatan untuk berkunjung. Semoga suatu saat nanti ada kesempatan saya sekeluarga mampir wisata ke Solo. Insya Allah. Salam dari blogger Pontianak. Kalimantan Barat

    BalasHapus
  2. Sharing yang menarik mas.. paling enak memang hidup dengan pasangan dengan keadaan sederhana, tau bagaimana berjuang bersama, anak2 juga ngerti kalo hidup itu harus kerja keras.. saya dulu juga dididik mandiri sama kakek nenek, ikut bantu2 kerjaan di sawah, cari kayu dll.. jadi pas uda gede gak males2an

    BalasHapus
  3. Iya mas... banyak2 lah untuk bersyukur hheeee. Alhamdulillahh selalu... :D

    BalasHapus
  4. kehidupan memang ada rasa asem, asin dan manis, tinggal kita mau masak jadi apa dan pakai bumbu tambahan apa agar menjadi ueanaaak,, wuuiih jadi pingin coba sosis bledek itu yang gimana ya?? pasang muka pengen,,, :)

    BalasHapus
  5. iya yah jangan dijadikan sebagai beban , dengan adanya cinta semua bisa bejalan dengan mudah

    BalasHapus
  6. Kisah yang unik bro...pantas buat inspirasi tentang bagaimana hidup harus terus berlanjut.
    Salam kenal

    BalasHapus
  7. wah seru banget kak kisahnya hehe :D

    BalasHapus
  8. sinetron yang panjang bgt episodenya

    BalasHapus